Kemasan nggak otomatis jahat
Susu UHT, tuna kaleng, telur, oat, tempe, kacang. Semuanya kemasan, semuanya oke.
Yang bikin masalah itu makanan yang gulanya banyak, minyaknya banyak, proteinnya nol, dan rasanya dibikin supaya kamu susah berhenti. Ciri gampangnya: bahannya panjang dan banyak yang nggak pernah ada di dapur.
Baca label dalam 10 detik
Satu: cek 'per sajian' atau 'per kemasan'. Satu bungkus sering dihitung 2 sajian, jadi kalorinya dua kali dari yang kamu baca.
Dua: lihat gulanya per sajian. Tiga: lihat proteinnya. Kalau gulanya dua digit dan proteinnya nol, itu jajanan, bukan makanan.
Kira-kira gula per kemasan
Baris terakhir itu batas anjuran sehari, kira-kira 50 gram atau 4 sendok makan. Satu soda plus satu teh kemasan udah lebih dari separuhnya.
Perkiraan, beda merek beda isi. Cek labelnya sendiri ya.
Label bilang 'per sajian 120 kalori', dan satu bungkus isinya 2 sajian. Kamu habisin sebungkus. Kalorinya?
Ini jebakan label paling sering. Angka yang dipajang gede itu per sajian, dan hampir nggak ada orang yang makan setengah bungkus lalu berhenti. Selalu cek jumlah sajiannya dulu.
Klaim di bungkus
Produk yang ditulis 'rendah lemak' biasanya...
Lemak itu yang bikin makanan enak. Begitu dikurangin, pabrik perlu ganti sesuatu, dan biasanya gula. Bandingin labelnya sebelah-sebelahan, sering kalorinya mirip.
Camilan harian yang paling masuk akal?
Ketiganya gampang dibeli dan ada proteinnya atau seratnya, jadi kenyangnya kebawa. Biskuit dan minuman rasa buah kalorinya masuk tanpa bikin kenyang, dan malah bikin pengen lagi.
Jadi makanan kemasan itu...
Menghindari semua kemasan itu nggak realistis dan nggak perlu. Yang perlu kamu bedain: mana yang ngasih protein dan serat, mana yang cuma ngasih gula, minyak, dan rasa.
Berat badan, jam kerja dan makanan tiap orang beda. Tanya aja ke tim Mulai, gratis.
Tanya trainerIni panduan umum buat orang sehat, bukan saran medis. Kalau kamu punya kondisi khusus (diabetes, hamil, darah tinggi, atau sedang minum obat tertentu), enaknya tanya dokter dulu.